Makna Keramat “Sumpah Pemuda”
www.suryanenggala.id-Nganjuk. Salah satu hari keramat bagi bangsa indonesia adalah tanggal 28 Oktober, yang kita kenal dengan hari Sumpah Pemuda. Pada tanggal 27 – 28 Oktober 1928, dalam sebuah Kongres Pemuda II yang digagas oleh Persatuan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI) dan dihadiri oleh berbagai organisasi pemuda. Antara lain Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Bataks Bond, Pemoeda Indonesia, Jong Islamieten Bond, Jong Celebes, Sekar Rukun, Jong Ambon, dan Pemuda Kaum Betawi. dimana para pemuda dari berbagai wilayah ini mengikrarkan diri. mengaku bertumpah darah satu, tanah Indonesia, mengaku berbangsa satu, bangsa Indonesia, dan menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.
Yang kemudian dalam perkembangan sejarah selanjutnya, hari itu kita sebut sebagai hari “Sumpah Pemuda.” Terasa merinding jika menoleh masa lalu tentang lahirnya hari “Sumpah Pemuda” ini. Jika kita sepakat menjadikan ini adalah “sumpah” maka kita juga harus bersedia dengan segala konsekwensinya. Ya…., suatu “sumpah” yang dalam hal ini tentu bobot dan rasanya berbeda jauh dari hanya sekedar sebuah janji. Sebab, didalam sumpah, ada makna yang lebih dalam, baik dari hal keseriusan maupun kesakralannya. Bahkan “sumpah” identik dengan adanya semangat dan keberanian untuk berkorban dalam mewujudkannya.
Baca juga:
Pertanyaannya sekarang adalah, Sejauh mana dan sebesar apa kita berani serta mau berkorban untuk mewujudkan kandungan makna hakiki dari sumpah pemuda tersebut ???
Kecanggihan akses informasi melalui tehnologi informasi yang modern saat ini telah banyak menunjukkan berbagai peristiwa yang cukup memprihatinkan. Perpecahan, permusuhan dan peperangan antar golongan masih sering terjadi. Bahkan, pemicunya terkadang hal remeh temeh yang sangat tidak layak untuk dijadikan sebuah alasan terjadinya hal itu.
Kita masih sering terjebak dalam konflik konflik murahan yang herannya bisa menjadi viral dan menyita banyak perhatian. Alhasil, mentalitas kita sebagai bangsa akan sulit menjadi dewasa dan tak bisa mengikuti arus perubahan peradaban zaman menuju moderenisasi. Dan ini akan membuat kita sebagai bangsa akan semakin jauh tertinggal bahkan menjadi terbelakang. Jika boleh di ibaratkan, bangsa lain sudah naik ke bulan, bahkan ke planet mars. Tetapi kita masih “udur-uduran” berdebat tentang hal hal kecil yang kurang bermanfaat.
Dihari sumpah pemuda ini, saatnya kita sejenak merenung. Tak perlu lagi saling menuding, yang tak pernah menemui ujung, bahkan malah membawa anak pinak masalah berkelanjutan. Jika kita sebagai bangsa sudah sepakat menjadikan hari ini adalah hari “sumpah Pemuda”, maka kita harus bisa bersikap sebagai seorang kesatria. “ satriyo kudu sembodo” artinya, harus selaras antara ucapan dan perilakunya. Jadi kalau kita sudah bersumpah, maka kita harus mau dan berani berjuang bahkan berkorban untuk mewujudkannya. Bertumpah darah satu, tanah Indonesia, berbangsa satu, bangsa Indonesia, dan menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.(Tim SN Nganjuk)
