Pemkab Madiun Gencarkan Deteksi Dini HIV/AIDS dan TBC Lewat Posyandu Integrasi Layanan Primer

oleh -229 Dilihat
Foto : Pras / Suryanenggala Media

Pemkab Madiun Gencarkan Deteksi Dini HIV/AIDS dan TBC Lewat Posyandu Integrasi Layanan Primer

www.suryanenggala.id -Madiun. Pemerintah Kabupaten Madiun bergerak cepat dalam upaya pencegahan dan penanggulangan penyakit menular seperti HIV/AIDS dan Tuberkulosis (TBC). Bekerja sama dengan Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) dan Dinas Kesehatan Kabupaten, mereka menggelar kegiatan “Screening HIV/AIDS dan Pemeriksaan Kesehatan Terpadu” dalam kerangka Posyandu Integrasi Layanan Primer Usia Remaja sepanjang bulan Oktober. Sabtu, 4/10/2025.

Kegiatan yang berpusat di Desa Luworo, Kecamatan Pilangkenceng, ini merupakan bagian dari program pemeriksaan kesehatan terpadu dan gratis yang digagas Pemerintah Kabupaten. Acara ini dihadiri langsung oleh Bupati Madiun Hari Wuryanto, Kepala Dinas Kesehatan, Sekretaris KPAD Agrim Kurnia, Muspika Kecamatan Pilangkenceng, serta Pemerintah Desa Luworo, dan disambut antusias oleh masyarakat.

Pemkab Madiun Gencarkan Deteksi Dini HIV/AIDS dan TBC Lewat Posyandu Integrasi Layanan Primer

Tujuannya: Deteksi Dini untuk Nol Stunting dan Pengendalian Penyakit.
Bupati Madiun Hari Wuryanto menjelaskan bahwa tujuan utama kegiatan ini adalah deteksi dini terhadap penyakit menular seperti HIV/AIDS dan TBC, serta penyakit tidak menular (PTM) lainnya.

“Ini adalah program dari pemerintah daerah Kabupaten Madiun untuk pemeriksaan kesehatan gratis terpadu. Kami bekerja sama dengan Dinas Kesehatan, Pemerintah Desa, dan juga KPAD. Hal ini penting supaya kita bisa mendeteksi secara dini, pertama adalah HIV, kemudian juga TBC,” ujar Bupati Hari Wuryanto.

Pemkab Madiun Gencarkan Deteksi Dini HIV/AIDS dan TBC Lewat Posyandu Integrasi Layanan Primer

Lebih lanjut, Bupati menekankan bahwa Posyandu yang terintegrasi ini juga menjadi bagian dari upaya pemerintah mencapai target nol stunting pada tahun 2030 sesuai program pemerintah pusat.

Mengenai fasilitas, Bupati menyebut pemeriksaan HIV sudah rutin dilakukan, dan untuk TBC, pihaknya akan mengupayakan mobil rontgen. Ia juga mengungkapkan data kasus HIV di Kabupaten Madiun saat ini mencapai 1.400 kasus, sementara data TBC masih belum terdata secara total. Bupati mengimbau masyarakat agar terbuka dan tidak takut untuk diperiksa karena TBC dapat disembuhkan jika rutin meminum obat selama enam bulan.

Maksimalkan Penemuan Kasus TBC Melalui ‘Grebek Dahak’
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan, Heri Setyana, menambahkan bahwa fokus dinas kesehatan adalah deteksi dini melalui screening. Setelah dipilah, pasien dengan indikasi penyakit menular akan mendapat tindak lanjut pemeriksaan hingga pengobatan.

“Untuk deteksi dini itu dilaksanakan screening, setelah dari screening nanti akan bisa dipilah, ini yang mengarah ke penyakit menular atau tidak. Kalau sudah terpilah, otomatis ada tindak lanjut untuk pemeriksaan lebih lanjut,” jelas Heri Setyana.

Paket pemeriksaan yang dilakukan dalam kegiatan ini meliputi: tensi, berat badan, tinggi badan, cek gula, kolesterol, asam urat, serta yang utama adalah screening HIV.

Untuk memaksimalkan penemuan kasus TBC yang capaiannya masih di bawah target, Heri Setyana mengumumkan program khusus di bulan Oktober yang disebut “Grebek Dahak.”

“Capaian penemuan kasus TBC di Kabupaten Madiun masih kurang dari target tahun ini 2.154, baru tercapai sekitar 700-an. Kita akan kejar target itu sampai akhir Desember,” kata Heri.

Melalui ‘Grebek Dahak’, setiap kader TBC di 206 desa/kelurahan di Madiun ditargetkan mengirim minimal 10 pot dahak ke Puskesmas untuk diperiksa. Program ini diibaratkan sebagai upaya ‘mencari maling’ untuk menemukan sumber penularan, menangkap, dan mengobatinya.

Waspadai Gejala Batuk Lama dan Penurunan Berat Badan
Heri Setyana juga menyampaikan imbauan keras kepada masyarakat terkait penyakit menular. Masyarakat diminta waspada jika mengalami gejala, terutama untuk TBC:

Batuk yang bukan batuk biasa (biasa batuk), yaitu secara teori batuk lebih dari dua minggu.

Penurunan berat badan yang ekstrem atau drastis, misalnya 5 kg dalam satu atau dua minggu.

Ia juga menekankan adanya hubungan erat antara HIV dan TBC. Oleh karena itu, setiap pasien HIV akan dicek TBC-nya, dan sebaliknya, setiap pasien TBC akan dicek HIV-nya.

“Penting bagi masyarakat untuk terbuka. Penyakit TBC bisa diobati, asalkan rutin minum obat 6 bulan,” tutupnya.

( Pras )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *