Mapolres Ponorogo Gelar Rakor Kesiapan Operasi Ketupat Semeru 2025
www.suryanenggala.id -Ponorogo. Selama perayaan Idul Fitri 1446 Hijriah Kepolisian Republik Indonesia (Polri) rutin menggelar Operasi Ketupat setiap tahun. Tak terkecuali di Ponorogo.
Karena tugas negara menjamin ketentraman dan keamanan penduduknya. Tanpa kecuali.
Wakil Bupati (Wabup) Lisdyarita turut serta dalam rapat koordinasi (rakor) kesiapan Operasi Ketupat Semeru 2025 di Mapolres Ponorogo, pada Selasa (18/3/2025).

‘’Menjadi tanggung jawab bersama menciptakan kondisi yang bebas dari segala macam bentuk gangguan dan hambatan selama perayaan Lebaran,’’ Lisdyarita.
“Tatkala keamanan itu tercipta”. lanjut Lisdiarita.
“Polri sesuai amanat undang-undang yang menjadi garda terdepan dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat”. Terangnya.
Lisdiarita meyakini kondisi keamanan dan ketertiban (kamtibmas) di Ponorogo selama ini selalu terjaga bersamaan peringatan hari besar keagamaan. Sebab, sikap toleransi, anti-kekerasan, penerimaan terhadap tradisi, dan komitmen kebangsaan sudah terbentuk. ‘’Mari kita jaga kondisi yang sudah ideal ini, Ponorogo yang tata tentrem kerta raharja , tertib, tentram, sejahtera, dan berkecukupan”. Tegasnya.
Sementara itu, Kapolres AKBP Andin Wisnu Sudibyo mengungkapkan bahwa Operasi Ketupat Semeru 2025 di Ponorogo melibatkan 288 personel yang terdiri 176 aggota Polri, 24 unsur TNI, dan 88 petugas dari instansi terkait di lingkup Pemkab.
Baca Juga :
Pihaknya tetap mengantisipasi munculnya ancaman terorisme, premanisme, lonjakan harga bahan pokok, antrean panjang bahan bakar minyak (BBM), serta maraknya penyakit masyarakat dan bencana alam.
‘’Termasuk menjaga keamanan, ketertiban, dan kelancaran lalu lintas di jalan bersamaan mobilitas masyarakat yang meningkat selama Lebaran,’’ Kata Andin.
Polda Jatim sebenarnya sudah lebih dulu menggelar Operasi Keselamatan Semeru 2025 sebagai persiapan menjelang gelaran Operasi Ketupat. Sebanyak 150 personel gabungan Polri, TNI, dinas perhubungan, dan satpol-PP itu terlibat dalam operasi selama 14 hari itu dengan tujuan menciptakan keamanan, keselamatan, ketertiban, serta kelancaran lalu lintas.
“Bukan mengedepankan razia tilang, namun operasi keselamatan lebih mengedepankan edukasi dan meningkatkan kesadaran masyarakat guna meminimalisir angka pelanggaran yang menyebabkan kecelakaan lalu lintas”. Pungkasnya.
(kominfo/win)
