Arogansi Mafia Solar, Seorang Jurnalis Terluka di Wilayah Hukum Polresta Tangerang

oleh

Arogansi Mafia Solar, Seorang Jurnalis Terluka di Wilayah Hukum Polresta Tangerang

Suryanenggala.idTangerang – Arogansi mafia solar mengakibatkan seorang jurnalis terluka. ‘FY’ yang merupakan seorang wartawati dari media antero.co yang sedang melakukan tugas investigasinya terhadap maraknya penyalahgunaan BBM bersubsidi di wilayah Hukum Polresta Tangerang. 

Dalam rangka menjalani tugas dirinya mendapatkan kekerasan fisik oleh oknum supir yang diduga merupakan kendaraan modifikasi (red-heli) dengan nopol B 9997 TF. Kecurigaan muncul saat didapati kendaraan tersebut terlihat berulang kali mengisi bahan bakar Biosolar, saat hendak mengkonfirmasi terkait kendaraan yang digunakan oleh oknum supir tersebut dirinya mendapatkan intimidasi, Minggu (11/02).

“Saya tidak mengerti dan kaget, saat hendak bertanya tiba-tiba supir tersebut menyerang hingga mengakibatkan luka gores pada wajah bawah bagian dagu,” terang FY

Usai melakukan kekerasan kemudian supir tersebut beranjak pergi dari lokasi SPBU 34.157.03 Kecamatan Jayanti meninggalkan korban tanpa rasa bersalah.

Atas kejadian tersebut FY selaku korban penganiayaan langsung mendatangi Polresta Tangerang untuk membuat laporan atas dugaan kekerasan terhadap Pers dan penganiayaan. 

Sementara itu, Edward, Ketua LPK-RI DPD Provinsi Banten turut angkat bicara atas tindakan keji yang dilakulan oleh oknum supir terhadap wartawati dan meminta Kapolresta Tangerang Kota untuk turun langsung menindaklanjuti laporan yang dibuat.

“Kami mengutuk keras atas apa yang dilakukan oknum supir mafia migas terhadap rekan dan sahabat kami. Hukum harus ditegakkan! Ini harus menjadi perhatian Kapolresta,” tegasnya Edward di halaman Mapolresta Tangerang.

Ia juga mengimbau, siapapun tidak boleh menghambat atau menghalangi tugas Pers dalam mencari informasi yang berimbang dan sesuai dengan fakta. Hal ini tertuang dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

“Ini adalah tugas Pers dalam mendapatkan informasi yang akurat, jangan kemudian di intervensi atau bahkan melakukan kekerasan yang mengakibatkan cidera,” imbaunya.

Mengacu kepada Undang-Undang tentang Pers, Pasal 18 ayat (1), “Setiap orang yang secara melawan hukum dengan sengaja melakukan tindakan yang berakibat menghambat atau menghalangi pelaksanaan ketentuan Pasal 4 ayat (2) dan ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun atau denda paling banyak Rp.500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).”

(Bly)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *