Advokat Muhammad Herdiyan laporkan bos PT Corpus Asa Mandiri terduga pelaku pidana penggelapan uang

oleh -236 Dilihat

Advokat Muhammad Herdiyan laporkan bos PT Corpus Asa Mandiri terduga pelaku pidana penggelapan uang

www.suryanenggala.id, JAKARTA – Advokat Muhammad Herdiyan Saksono Zoulba melaporkan dugaan tindak pidana penipuan dan atau penggelapan, tindak pidana perbankan dan atau TPPU terduga bos PT Corpus Asa Mandiri, Khristiono Gunarso.

Herdiyan melapor ke Polda Metro Jaya dengan terduga pelaku atau terlapor JS, RS,THW, KG selaku petinggi dari perusahaan PT Corpus Asa Mandiri (CAM), yang kini dalam putusan MA perusahaan dalam kondisi pailit.

Adapun, advokat Herdiyan menyatakan pihak Corpus Asa Mandiri yang berdiri 2004 silam diduga telah melakukan penipuan, dengan janji membayarkan bunga ke nasabah.

“Awal mula semua berjalan mulus, perusahaan selalu membayarkan bunga & pokok kreditur tepat waktu. Namun pada saat akhir 2019, dimana banyaknya perusahaan investasi di tempat lain, mulai terjadi gagal bayar dam akhirnya juga berimbas ke PT CAM,” jelas advokat Herdiyan kepada awak media, Rabu 28 September 2022.

Dia menjelaskan, Corpus Asa Mandiri memiliki anak perusahaan yakni Corpus Prima Mandiri (CPM). Diduga, kedua perusahaan itu terlibat penyelewengan perjanjian pembayaran bunga & pokok kreditur ini.

Pucuk pimpinan Corpus Asa Mandiri diantaranya Kristhiono Gunarso yang berdomisili di Surabaya dan founder City Friends bernama Tanu Hadiwijaya.

Dua nama tersebut tertulis dalam keterangan pelaporan Herdiyan ke Polda Metro Jaya.

“Februari 2020 (mereka) mulai gagal membayarkan bunga dan pokok ke nasabah yang sudah tidak bisa dicairkan. Hanya menjanjikan terus untuk mengembalikan dana,” kata Herdiyan.

Pihak pelapor, didampingi Herdiyan selaku advokat menyebut kliennya memberi permakluman karena ekonomi melambat akibat pendemi covid-19.

Setahun telah berlalu, seperti yang dijanjikan, dan ekonomi global kembali menggiat normal. Herdiyan telah melaporkan terduga pelaku penipuan, yakni diantaranya Kristhiono Gunarso tersebut. Alasannya, selama sampai akhir 2022 pun tidak pernah membayarkannya pada nasabah.

“Hanya diberi harapan palsu dengan adanya proses investor luar negeri, yang ingin membeli corpus. Diimingi dapat membayarkan tagihan ke para kreditur yang totalnya senilai Rp1,7 T,” sebut lawyer kelahiran Jakarta itu.

Mengetahui kondisi perusahaan PT CAM dalam kondisi pailit. Herdiyan menyebut bahwa hingga detik ini tidak pernah ada pembayaran pokok sesuai kesepakatan awal yang dijanjikan.

“PT CAM dan CPM sudah dinyatakan pailit oleh pengadilan, namun hingga sampai saat ini, tidak ada sepersen pun pembayaran bunga dan pokok dijanjikan tsb hingga hari ini.”

Surat tanda terima polisi itu yang didalamnya menyebutkan kerugian yang dialami kliennya mencapai Rp8,6 miliar. (tk/*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *