Bupati Ponorogo Sugiri Sancoko Perankan KRMA Mertonegoro dan Agus Pramono Perankan Patih Sasrakusuma

oleh
Sugiri Sancoko memerankan KRMA Martonegoro dan Istri saat serah terima Pusaka di area Pemakaman Batoro Katong

Bupati Ponorogo Sugiri Sancoko Perankan KRMA Mertonegoro dan Agus Pramono Perankan Patih Sasrakusuma

www.suryanenggala.id – Ponorogo. Ada yang menarik saat Upacara serah terima tiga pusaka Ponorogo sebelum dikirab. Adalah peran-peran sentral KRMA Mertonegoro, Patih Sasrakusuma dan Pemeran Pasukan Bergada.

Sugiri Sancoko Bupati Ponorogo memerankan Mertonegoro dan menggelari Mertonegoro sebagai Founding Father Kota Baru.

Mertonegoro adalah bupati pertama Kota Tengah yang menjabat selama 17 tahun (1837-1854).

Sedangkan Sekda Ponorogo, Agus Pramono memerankan Patih Sasrakusuma, mengalungkan rangkaian bunga melati ke para anggota bregada (prajurit/pasukan) yang bertugas mengirab ketiga pusaka. Prajurit bregada (regu pasukan) diperankan kades dan sekdes se-Kecamatan Jenangan.

Mertonegoro dalam sejarahnya ketika itu membuat jalan lingkar kota dengan menanam perindang pohon asem. Di setiap perempatan juga dibangun gardu pengamanan yang disebut gerdon. Mertonegoro pula yang memprakarsai pembangunan sejumlah pasar, masjid, rumah dinas bupati, paseban, penjara, dan rumah sakit.

Baca Juga :
Bupati Ponorogo Sugiri Sancoko Perankan KRMA Mertonegoro dan Agus Pramono Perankan Patih Sasrakusuma
Bupati Ponorogo Sugiri Sancoko Perankan KRMA Mertonegoro dan Agus Pramono Perankan Patih Sasrakusuma

Dalam upacara kirab pusaka dalam rangkaian Grebeg Suro 2022 di Ponorogo, Jumat (29/7/2022). Saat pemberangkatan Tombak Kyai Tunggul Naga, Angkin Cinde Puspita, dan Payung Kyai Songsong Tunggul Wulung dari area makam Batoro Katong Nama bupati Ponorogo ke-13 kerap disebut sebagai Founding Father Kota Baru, Kota Timur ke Kota Tengah.

Alip Sugianto tokoh muda, dalam bukunya yang berjudul ‘’Sejarah Adipati dan Bupati Ponorogo (1496-2016) mengatakan ‘’Memilih pusat pemerintahan di Kelurahan Mangkujayan bukan tanpa alasan. Pertimbangannya adalah faktor strategis karena jalur perdagangan antar wilayah dengan Kadipaten Pacitan, Kabupaten Wonogiri, Kadipaten Madiun, Magetan, dan Kadipaten Trenggalek,’’ tulis Alip Sugianto.

Upacara serah terima pusaka di makam Batoro Katong berlangsung dengan bahasa Jawa Krama khas Ponorogo. Peserta upacara juga mengenakan busana kebesaran Ponoragan. Tanpa kecuali, para pejabat yang ikut kirab naik kereta kuda.

‘’Mertonegoro masih memiliki trah Katongan dan Jayengranan yang berjasa dalam babad Ponorogo,’’ Pungkas Alif.

(Sumber : Humas Kominfo Ponorogo)

(Wid)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *